15 Sep 2026
Mengurus, mengembangkan, dan memajukan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) tidak cukup dengan jabatan, gedung, anggaran, akreditasi, atau teknologi. Pertanyaan mendasarnya: mengapa ada PTMA yang maju dan berkembang, ada yang berjalan di tempat, bahkan ada yang mundur, kehilangan mahasiswa, hingga harus dilebur atau diambil alih PTMA lain? Jawabannya tidak semata-mata pada modal material, tetapi terutama pada manusia yang mengelolanya dan hati yang menggerakkannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka perubahan PTMA harus dimulai dari perubahan manusia: cara berpikirnya, kompetensinya, integritasnya, profesionalismenya, dan terutama niatnya.
Sebagaimana pandangan Prof. Bambang yang pernah saya dengar, jika ingin unggul maka keunggulan harus dimulai dari seluruh mata rantai organisasi: tukang kebersihan, satpam, staf, dosen, program studi, dekan, direktur pascasarjana, lembaga, wakil rektor, rektor, BPH, hingga Persyarikatan, ortom dan siapa pun yang memberi kontribusi serta masukan kepada kampus. Semuanya harus berbobot. Sebab Rektor sehebat apa pun tidak mungkin mengangkat kampus sendirian. PTMA adalah sistem; jika satu mata rantai lemah, keunggulan ikut terganggu. SDM harus unggul, sarana-prasarana harus siap, sistem informasi harus hidup, pelayanan harus cepat, jejaring kemitraan harus luas, tata kelola harus transparan, dan seluruh unsur harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Karena itu, ketika ada titipan pegawai, dosen, atau unsur tertentu, pertanyaannya bukan siapa yang menitipkan, tetapi apakah orang tersebut mampu membantu memajukan kampus? Seleksi harus berbasis kompetensi, integritas, kebutuhan organisasi, dan komitmen. Jangan sampai orang yang seharusnya menjadi energi kemajuan justru berubah menjadi beban. Amanah yang diberikan harus dikerjakan sungguh-sungguh, bukan sekadar diduduki. Jabatan bukan tempat mencari kenyamanan, tetapi ruang mempertanggungjawabkan kepercayaan.
Inilah yang membedakan Amal Usaha Muhammadiyah dari sekadar perguruan tinggi swasta. Ada kata amal sebelum kata usaha. Usaha membutuhkan profesionalisme, tetapi amal membutuhkan keikhlasan. Filosofi KH. Ahmad Dahlan mengajarkan semangat bahwa ketika bergabung dengan Muhammadiyah jangan hanya berpikir bagaimana hidup dari Muhammadiyah, tetapi bagaimana menghidupkan Muhammadiyah. Maka gaji adalah hak, tetapi memberikan nilai yang lebih besar melalui pekerjaan adalah kewajiban moral. Jangan sampai mengambil manfaat dari amal usaha atas nama kepentingan pribadi, karena ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, ruh keikhlasan mulai runtuh.
Profesionalisme tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi transaksi; keikhlasan tanpa profesionalisme dapat berubah menjadi ketidakmampuan. PTMA membutuhkan keduanya: hati yang ikhlas dan kerja yang profesional. Allah menegaskan, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 105). Karena itu, ukuran pengabdian bukan seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi seberapa besar amanah yang ditunaikannya dan seberapa nyata manfaat pekerjaannya.
Keunggulan juga tidak boleh dipahami sebagai predikat sesaat. Pernah sebuah program studi memperoleh akreditasi baik sekali, tetapi kemudian turun menjadi baik. Ini pelajaran bahwa keunggulan yang tidak dirawat akan menjadi masa lalu. Unggul harus menjadi budaya dan sistem yang berkelanjutan. Kurikulum harus terus dikaji sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; pembelajaran harus berbasis OBE; dosen harus mengajarkan ilmu terbaru yang lahir dari riset dan dapat diterapkan; penelitian harus menghasilkan pengetahuan dan inovasi; pengabdian harus memberi dampak; AIK harus menjadi karakter, bukan sekadar kegiatan; pelayanan harus cepat dan tepat; sistem informasi harus bekerja; sarana-prasarana harus berfungsi; dan jejaring harus menghasilkan manfaat.
Budaya unggul justru terlihat dari hal-hal yang sering dianggap kecil. Ketika mahasiswa membutuhkan kaprodi, apakah kaprodi hadir? Ketika pelayanan akademik dibutuhkan, apakah layanan tersedia tepat waktu? Ketika keamanan diperlukan, apakah satpam berada di tempat? Ketika perpustakaan dibutuhkan, apakah terbuka? Ketika mahasiswa membutuhkan air, listrik, ruang, jaringan internet, atau mikrofon aula, apakah semuanya siap? Ketika sampah berserakan, siapa yang merasa bertanggung jawab? Kampus unggul bukan hanya yang bagus ketika dinilai asesor, tetapi yang bagus setiap hari ketika melayani mahasiswa. Akreditasi adalah hasil; budaya mutu adalah sebab.
Maka mari kita bercermin: ketika pertama kali diterima bekerja di Muhammadiyah, kita menyatakan siap mengemban amanah. Banyak yang telah mengikuti Baitul Arqam. Pertanyaannya sekarang, apakah hati kita masih searah dengan amanah awal itu? Apakah kita datang untuk menghidupkan amal usaha atau sekadar mencari nafkah? Apakah kehadiran kita menambah nilai atau menambah masalah? Apakah pekerjaan kita membuat kampus semakin dipercaya masyarakat atau justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kinerja.
PTMA yang unggul membutuhkan satu kesadaran kolektif: kampus ini milik perjuangan, bukan milik kepentingan pribadi. BPH, PWM, PDM, ‘Aisyiyah, ortom, pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga Muhammadiyah harus memberi kontribusi terbaik. Kritik harus menjadi energi perbaikan, bukan konflik; masukan harus berkualitas, bukan kepentingan; pengangkatan SDM harus berdasarkan merit, bukan kedekatan; dan setiap amanah harus dikembalikan kepada tujuan utamanya: memajukan Persyarikatan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memberi manfaat bagi umat.
Implikasinya, PTMA perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap manusia, sistem, layanan, akademik, AIK, keuangan, sarana-prasarana, teknologi, penelitian, pengabdian, kemitraan, dan budaya organisasi. Setiap unit harus memiliki standar, target, indikator, evaluasi, penghargaan, pembinaan, dan konsekuensi. Orang baik harus diberi ruang berkembang, orang lemah dibina, orang berprestasi diapresiasi, dan amanah yang terus-menerus diabaikan harus ditindak secara organisatoris. Tidak boleh ada budaya “yang penting hadir”; yang dibutuhkan adalah budaya “hadir untuk memberi arti”.Pada akhirnya, PTMA tidak akan unggul hanya karena memiliki banyak doktor, gedung megah, mahasiswa banyak, teknologi canggih, atau akreditasi tinggi. Semua itu hanyalah instrumen. Ruhnya tetap manusia dan hatinya. Jika hati pengelola lurus, niatnya ikhlas, ilmunya kuat, kerjanya profesional, integritasnya terjaga, dan seluruh unsur bergerak dalam satu arah, PTMA akan tumbuh menjadi amal usaha yang berkemajuan. Tetapi jika hati mulai kehilangan amanah, profesionalisme ditinggalkan, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, maka sebesar apa pun gedung dan sebaik apa pun predikat akreditasi, kemunduran hanya tinggal menunggu waktu.
Karena itu, mari kita kembali kepada niat awal: bekerja bukan sekadar di Muhammadiyah, tetapi bekerja untuk menghidupkan Muhammadiyah; bukan sekadar mempertahankan kampus, tetapi memajukannya; bukan sekadar mengejar unggul, tetapi menjadi unggul yang berkelanjutan. Sebab keunggulan PTMA tidak pertama-tama lahir dari gedung, sistem, atau sertifikat. Keunggulan lahir dari hati, dibuktikan dengan kerja, dirasakan dalam pelayanan, diukur melalui hasil, dan dipertahankan dengan amanah.