Logo PWM Sulbar
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat
Ketua PW Muhammadiyah Sulbar
Jadwal Salat
00:00:00

Mamuju dan sekitarnya

Memuat tanggal...

🌅 Subuh 05:01
🌄 Terbit 06:07
☀️ Zuhur 12:10
Ashar 15:32
🌆 Maghrib 18:08
🌙 Isya 19:19
Sumber jadwal: KHGT Muhammadiyah. Untuk fitur lengkap, gunakan MASA, aplikasi resmi Muhammadiyah. Waktu Subuh mengikuti keputusan MTT PP Muhammadiyah.
Galeri PWM
utama

Galeri PWM

Selengkapnya
Ayo S2 di UNIMAJU
utama

Ayo S2 di UNIMAJU

Selengkapnya
Open Recruitmen Dosen
utama

Open Recruitmen Dosen

6 PDM Kab/Kota
16 Sekolah/Pesantren
19 Majelis/Lembaga
69 Amal Usaha Utama
Harapan Filda Adelia untuk IPM Sulbar berikutnya: Pimpinan harus haus informasi dan terus berusaha mencari peluang MUHAMMADIYAH
20 Sep 2026

Harapan Filda Adelia untuk IPM Sulbar berikutnya: Pimpinan harus haus informasi dan terus berusaha mencari peluang

PWMSULBAR.ID, Mamuju— Suasana haru dan penuh syukur mewarnai pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Barat di Mamuju (19/9/2026).Ketua Umum Pimpinan Wilayah IPM Sulawesi Barat, Filda Adelia, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur mendalam karena agenda besar IPM Sulbar ini akhirnya dapat terlaksana setelah mengalami tiga kali penundaan."Alhamdulillah, syukur karena pada akhirnya agenda Musywil dapat terlaksana setelah 3 kali dimundurkan. Ini adalah buah dari kerja keras dan kesabaran kita bersama," ujar Filda Adelia.Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada jajaran intinya yang telah bekerja keras mengusahakan seluruh rangkaian acara."Ucapan terima kasih khususnya kepada Sekum, Bendum, dan Kabid karena telah mengusahakan seluruh rangkaian acara. Harapan saya semoga acara ini berjalan lancar dari awal hingga akhir," katanya.Filda juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan penuh dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat dan Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) atas fasilitas tempat dan kendaraan yang diberikan untuk menyukseskan Musywil.Tak lupa, ia juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh kader."Saya mohon maaf, ada keputusan yang kadang keliru yang sangat berpengaruh pada kelangsungan organisasi. Namun begitu, keputusan tetap kami ambil dengan hati-hati dan meminimalisir risiko dan hal-hal yang tidak menyenangkan," ungkapnya dengan tulus.Sebagai refleksi selama menjabat, Filda membagikan pesan penting tentang kepemimpinan."Sebagai pimpinan kita harus haus mencari informasi. Salah satu penyesalan saya saat menjabat adalah kurangnya inisiatif untuk mencari informasi yang menghambat perkembangan organisasi. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua," pesannya.Untuk kepengurusan periode berikutnya, Filda menitipkan harapan besar agar IPM Sulbar semakin besar dan melebarkan sayapnya secara legal dan struktural."IPM adalah organisasi yang besar, maka dari itu perluas jaringan, masuk ke instansi pemerintahan, terutama daftarkan organisasi, bukan hanya PW tapi juga sampai PD nya ke Kesbangpol. Ini penting untuk legitimasi dan keberlanjutan gerakan kita," tegas Filda.Di akhir sambutan, ia berpesan agar soliditas dan persaudaraan tetap menjadi fondasi utama."Harapan saya agar menjaga hubungan baik sesama pimpinan, menguatkan ikatan persaudaraan sehingga terwujud organisasi yang kokoh," pungkasnya.Sambutan Filda Adelia yang jujur, reflektif, dan penuh harapan tersebut mendapat apresiasi dari seluruh peserta Musywil yang hadir.

Tanamkan Cinta Ibadah Sejak Dini, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Wonomulyo Rutin Gelar Sholat Dhuha Berjamaah dan Hafalan Surah Pendek MUHAMMADIYAH
19 Sep 2026

Tanamkan Cinta Ibadah Sejak Dini, TK Aisyiyah Bustanul Athfal Wonomulyo Rutin Gelar Sholat Dhuha Berjamaah dan Hafalan Surah Pendek

PWMSULBAR.ID, Wonomulyo— Suasana penuh keceriaan dan kekhusyukan terlihat di Mushollah TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Cabang Wonomulyo, Sabtu (19/9). Puluhan anak didik mengikuti kegiatan pembiasaan keagamaan rutin, yakni Sholat Dhuha berjamaah dilanjutkan dengan hafalan surah-surah pendek.Kegiatan ini menjadi program unggulan TK ABA Wonomulyo dalam membentuk karakter Islami sejak usia dini. Dalam foto yang diabadikan, tampak anak-anak didik duduk melingkar rapi di atas karpet mushollah yang bersih. Anak laki-laki mengenakan peci dan baju koko, sementara anak perempuan mengenakan mukena dan jilbab warna-warni.Sebelum pelaksanaan sholat, anak-anak dibimbing untuk melafalkan hafalan surah pendek. Terlihat seorang anak dengan percaya diri maju ke depan memegang mikrofon untuk melantunkan hafalannya, disimak dengan antusias oleh teman-temannya dan didampingi langsung oleh para ustadzah. Di papan tulis mushollah tertulis huruf-huruf hijaiyah sebagai media pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.Hj. Suhumiah Kepala TK Aisyiyah Bustanul Athfal Wonomulyo menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar untuk membangun fondasi agama yang kuat."Kami ingin membiasakan anak-anak untuk mencintai masjid dan sholat sejak kecil. Sholat Dhuha adalah sholat pembuka rezeki dan wujud rasa syukur di pagi hari. Setelah sholat, kami lanjutkan dengan hafalan surah pendek seperti Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq serta doa-doa harian. Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias dan ceria," ujarnya.Melalui bimbingan Pimpinan Cabang Aisyiyah Wonomulyo, TK ABA terus berkomitmen tidak hanya mencerdaskan anak secara akademik, tetapi juga membangun generasi Qur'ani yang berakhlak mulia, sesuai dengan visi Muhammadiyah-Aisyiyah dalam mencerahkan peradaban.Kegiatan ditutup dengan sholat Dhuha berjamaah dan doa bersama, dengan harapan ilmu yang didapat menjadi berkah dan bekal untuk masa depan anak-anak sholih-sholihah.

Hadiri Musywil VIII IPM Sulbar di Mamuju, PP IPM: Sulbar Punya Posisi Strategis, Lahirkan Pemimpin Mampu Baca Perubahan Zaman MUHAMMADIYAH
19 Sep 2026

Hadiri Musywil VIII IPM Sulbar di Mamuju, PP IPM: Sulbar Punya Posisi Strategis, Lahirkan Pemimpin Mampu Baca Perubahan Zaman

PWMSULBAR.ID, Mamuju— Musyawarah Wilayah (Musywil) VIII Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Barat yang digelar di Universitas Muhammadiyah Mamuju (19/9/2026) mendapat perhatian langsung dari Pimpinan Pusat (PP) IPM.Dalam sambutannya, Tasbita Ikrima Al Arify Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat IPM menegaskan bahwa forum Musywil memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar agenda pemilihan."Musyawarah Wilayah bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, tetapi ruang konsolidasi ide, gagasan, dan arah gerakan IPM Sulbar ke depan," tegasnya di hadapan peserta Musywil.Ia juga menegaskan posisi strategis Sulawesi Barat dalam peta gerakan IPM nasional."Saya ingin menegaskan bahwa kehadiran teman-teman Pimpinan Wilayah Sulbar memiliki posisi yang sangat strategis dalam tubuh gerakan IPM secara nasional," ujarnya.Sekjend PP IPM berharap kontributor aktif dari Sulbar untuk gerakan nasional."Kami berharap teman-teman Sulbar dapat berkontribusi dalam konsolidasi ide, gagasan, dan gerakan IPM nasional. Harapannya ke depan akan semakin banyak praktik baik dan inovasi dari Sulbar yang dapat menjadi inspirasi teman-teman pelajar Muhammadiyah di seluruh Indonesia," harapnya.Lebih lanjut, Tasbita Ikrima Al Arify menekankan bahwa Musywil harus melahirkan tipologi pemimpin baru yang relevan dengan zaman."Musywil ini harus melahirkan pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman, membangun kolaborasi, dan menghadirkan gerakan yang berdampak," katanya.Hal tersebut sejalan dengan arah gerak PP IPM saat ini, yaitu kepemimpinan berdampak, yang bertujuan membentuk algoritma pelajar berdampak berlandaskan nilai-nilai keilmuan dan Islam Berkemajuan.PP IPM juga menyoroti tantangan pelajar yang kian kompleks hari ini, mulai dari transformasi digital, krisis literasi, isu kesehatan mental, hingga penguatan karakter di akar rumput."Dibutuhkan kader-kader yang punya kompetensi dan militansi ideologi yang kuat. Kami berharap proses dan program perkaderan IPM Sulbar menjadi langkah prioritas dan berkelanjutan, untuk menjadi kader yang punya kompetensi tinggi dan kuat dalam ideologi Muhammadiyah," pesannya.Di akhir sambutan, Sekjend PP IPM mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Musywil sebagai forum yang demokratis namun tetap penuh persaudaraan.“Mari jadikan Musywil ini sebagai forum yang penuh gagasan, kaya argumentasi, namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam musyawarah, tetapi persatuan adalah tujuan yang harus kita jaga bersama.”"Selamat bermusyawarah. Semoga forum ini melahirkan keputusan terbaik, pemimpin terbaik, dan memperkuat kontribusi IPM Sulbar bagi kemajuan pelajar, umat, bangsa, dan persyarikatan," pungkasnya.Musywil VIII IPM Sulbar di Mamuju ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi gerakan pelajar Muhammadiyah yang lebih berdampak dan berkemajuan di Bumi Manakarra.

Buka Musywil VIII IPM Sulbar, Ketua PWM Sulbar Tegaskan: Musywil Bukan Sekadar Memilih Pimpinan, Tapi Momentum Rumuskan Arah Gerakan MUHAMMADIYAH
19 Sep 2026

Buka Musywil VIII IPM Sulbar, Ketua PWM Sulbar Tegaskan: Musywil Bukan Sekadar Memilih Pimpinan, Tapi Momentum Rumuskan Arah Gerakan

PWMSULBAR.ID, Mamuju — (19/9/2026) Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-VIII Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Barat resmi dibuka. Kegiatan yang menjadi forum tertinggi IPM di tingkat wilayah ini dihadiri oleh PP IPM, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulbar, Ortom, Ketua PDM Mamuju, Ketua Lazismuh Sulbar serta kader IPM se-Sulawesi Barat.Dalam amanahnya, Dr. KH. Wahyun Mawardi, M.Pd. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat menegaskan bahwa Musywil memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar agenda elektoral."Musywil bukan sekadar forum untuk memilih siapa yang akan menjadi pimpinan berikutnya. Musywil adalah momentum untuk melakukan evaluasi, refleksi, konsolidasi, dan merumuskan arah gerakan IPM Sulawesi Barat ke depan," tegas Ketua PWM dalam sambutannya.Ia berharap Musywil VIII ini tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan semata, tetapi mampu melahirkan gagasan-gagasan baru yang progresif."Karena itu, saya berharap Musywil ini tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan, tetapi mampu melahirkan gagasan-gagasan baru, program-program yang nyata, serta kader-kader yang semakin matang dalam kepemimpinan," tambahnya.Wahyun Mawardi juga menekankan posisi strategis IPM sebagai sekolah kepemimpinan Muhammadiyah."IPM adalah Sekolah Kepemimpinan Muhammadiyah," ujarnya dengan tegas.Menurutnya, Muhammadiyah hari ini membutuhkan kader yang paripurna."Muhammadiyah membutuhkan kader yang bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga mampu bekerja. Muhammadiyah membutuhkan generasi yang memiliki iman yang kuat, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, kemampuan berorganisasi, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat," paparnya.Oleh karena itu, IPM harus menjadi ruang penting untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin."Karena itu, IPM harus menjadi salah satu ruang penting untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin Muhammadiyah dan pemimpin bangsa pada masa yang akan datang," pungkasnya.Musywil VIII IPM Sulawesi Barat dijadwalkan akan membahas Laporan Pertanggungjawaban Pimpinan Wilayah IPM periode sebelumnya, merumuskan program kerja periode mendatang, serta memilih formatur Pimpinan Wilayah IPM Sulawesi Barat yang baru.Semangat pelajar Muhammadiyah Sulbar untuk terus berkemajuan tampak begitu kuat dalam pembukaan Musywil kali ini.

Kader Muda Muhammadiyah dan Tantangan Etika Berpikir Di Era Informasi: Menguatkan Kembali Tradisi Tabayyun Muh. Fadli, H.,S.E.
20 Sep 2026

Kader Muda Muhammadiyah dan Tantangan Etika Berpikir Di Era Informasi: Menguatkan Kembali Tradisi Tabayyun

PWMSULBAR.ID - Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan fundamental dalam pola komunikasi generasi muda. Ruang digital memungkinkan informasi diproduksi, dikonsumsi, dan disebarluaskan dalam waktu yang sangat singkat. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi pengembangan dakwah, pendidikan, intelektualisme, dan gerakan sosial. Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut menghadirkan tantangan serius terhadap etika komunikasi, kedewasaan berpikir, dan kemampuan melakukan verifikasi informasi. Dalam konteks kader Muhammadiyah, tantangan tersebut perlu ditempatkan sebagai bahan refleksi kaderisasi. Fenomena seperti membicarakan persoalan personal orang lain, membuka aib saudara, menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, hingga menjadikan persoalan pribadi sebagai konsumsi publik merupakan gejala yang perlu disikapi secara kritis dan proporsional. Fenomena tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai karakter seluruh kader muda Muhammadiyah. Akan tetapi, ketika praktik semacam itu mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam ruang sosial maupun digital, maka terdapat persoalan etis yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Kaderisasi tidak semestinya hanya menghasilkan kader yang memiliki keberanian berbicara, tetapi juga kader yang memiliki kematangan epistemik dan kedewasaan moral. Kader harus mampu membedakan antara fakta dan opini, informasi dan interpretasi, kritik dan penghukuman, serta keterbukaan dan pengumbaran persoalan privat. Dalam kehidupan sosial, terdapat satu prinsip yang layak direnungkan: “Tidak semua yang diketahui harus disampaikan, tidak semua yang didengar harus dipercaya, dan tidak semua yang benar untuk diketahui layak disebarluaskan.” Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa pengetahuan selalu memiliki dimensi etis. Informasi bukan sekadar sesuatu yang dapat dipindahkan dari satu orang kepada orang lain, tetapi dapat memiliki konsekuensi terhadap reputasi, kehormatan, hubungan sosial, bahkan keberlangsungan sebuah komunitas. Karena itu, kecepatan menerima dan menyebarkan informasi tidak dapat dijadikan ukuran kecerdasan intelektual. Justru kemampuan menunda kesimpulan, memeriksa sumber, memahami konteks, melakukan klarifikasi, serta mempertimbangkan dampak dari suatu informasi merupakan bagian dari kedewasaan berpikir. Tabayyun sebagai Etika Epistemik Islam telah memberikan kerangka yang sangat fundamental dalam menghadapi persoalan informasi melalui prinsip tabayyun. Allah SWT berfirman: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ» “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6). Tabayyun dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai aktivitas memeriksa benar atau salahnya sebuah berita. Ia merupakan disiplin intelektual dan etika sosial yang mengharuskan seseorang berhati-hati sebelum menerima, menilai, maupun menyebarluaskan informasi. Seorang kader tidak seharusnya membangun kesimpulan hanya berdasarkan potongan cerita, tangkapan layar, percakapan sepihak, atau informasi yang diperoleh dari pihak kedua dan ketiga. Informasi membutuhkan konteks, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta klarifikasi dari pihak yang berkaitan. Sebab, informasi yang tidak diverifikasi dapat melahirkan prasangka. Prasangka dapat berkembang menjadi penilaian. Penilaian yang tidak berdasar dapat berubah menjadi tuduhan. Dan tuduhan yang disebarluaskan dapat menghasilkan ketidakadilan terhadap seseorang. Al-Qur'an kembali memberikan peringatan dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 agar manusia menjauhi prasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak melakukan ghibah. Dengan demikian, terdapat sebuah rangkaian etika yang sangat relevan bagi kehidupan kader: Verifikasi sebelum percaya. Klarifikasi sebelum menilai. Pertimbangan sebelum menyebarkan. Nasihat sebelum mempermalukan. Menjaga Aib dan Martabat Sesama Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Hadis tersebut memberikan landasan penting mengenai perlindungan terhadap kehormatan manusia. Menjaga aib bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan pelanggaran. Jika terdapat persoalan yang berkaitan dengan amanah, integritas, atau kepentingan organisasi, tentu diperlukan penyelesaian yang bertanggung jawab. Namun, penyelesaian tersebut seharusnya ditempuh melalui klarifikasi, nasihat, pembinaan, musyawarah, dan mekanisme organisasi yang sesuai, bukan dengan menjadikan persoalan personal sebagai konsumsi publik. Dalam konteks kaderisasi, terdapat perbedaan fundamental antara mengkritik perilaku untuk tujuan perbaikan dan membuka aib untuk menjatuhkan martabat seseorang. Kritik memiliki orientasi perbaikan, sedangkan pengumbaran aib berpotensi menggeser persoalan dari pembinaan menuju penghukuman sosial. Demikian pula dengan fenomena menjadikan persoalan pribadi sebagai konsumsi publik. Keterbukaan merupakan nilai yang penting, tetapi keterbukaan tidak identik dengan hilangnya batas antara ruang privat dan ruang publik. Berbagi pengalaman untuk tujuan edukasi, refleksi, dan mengambil ibrah merupakan sesuatu yang berbeda dengan menormalisasi pengungkapan persoalan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai kemaslahatan, martabat, dan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Mengonsumsi Informasi secara Beradab Di tengah fenomena information overload, kader membutuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi juga literasi etis. Seorang kader perlu membangun kebiasaan bertanya: Apakah informasi ini benar? Siapa sumber pertamanya? Apa konteksnya? Sudahkah pihak yang bersangkutan diklarifikasi? Apakah informasi ini relevan untuk saya ketahui? Dan apakah informasi tersebut memang layak saya sebarkan? Sebab, viralitas tidak identik dengan validitas. Banyaknya orang yang membicarakan suatu informasi tidak menjadikannya benar. Demikian pula, kedekatan kita dengan seseorang tidak otomatis menjadikan seluruh informasi yang disampaikannya bebas dari kekeliruan. “Jangan mengukur kebenaran dari banyaknya orang yang membicarakannya; ukur kebenaran dari kekuatan bukti yang menopangnya.” Dalam perspektif etika informasi, kemampuan untuk tidak meneruskan suatu informasi juga merupakan bentuk kecerdasan moral. “Tidak semua yang masuk ke telinga harus menetap di pikiran, dan tidak semua yang menetap di pikiran harus keluar melalui lisan.” Kader yang matang tidak menjadikan informasi sebagai instrumen untuk memenangkan perdebatan atau membangun superioritas sosial. Informasi seharusnya menjadi sarana untuk menemukan kebenaran, memperbaiki keadaan, dan menghadirkan kemaslahatan. Reorientasi Kaderisasi Karena itu, proses kaderisasi Muhammadiyah perlu terus memperkuat dimensi intelektualisme, akhlak, literasi digital, etika komunikasi, dan kedewasaan epistemik. Kader tidak cukup hanya dibentuk menjadi individu yang kritis terhadap realitas. Kader juga harus memiliki kemampuan untuk mengkritisi dirinya sendiri: bagaimana ia menerima informasi, bagaimana ia membentuk kesimpulan, bagaimana ia menyampaikan kritik, dan bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pandangan dengannya. Kader yang dewasa secara intelektual tidak tergesa-gesa menjadi hakim atas cerita yang baru didengarnya. “Kader yang matang bukanlah mereka yang paling cepat mengetahui kesalahan orang lain, melainkan mereka yang paling bertanggung jawab dalam memperlakukan informasi tentang orang lain.” Dalam kerangka itu, tabayyun harus menjadi budaya intelektual sekaligus budaya organisasi. Bukan hanya ketika menerima berita tentang orang lain, tetapi juga ketika terjadi konflik internal, perbedaan pandangan, dinamika kepemimpinan, maupun persoalan yang berkembang di ruang digital. Tabayyun mengajarkan kita untuk memberikan ruang bagi fakta sebelum kesimpulan, memberikan ruang bagi klarifikasi sebelum penilaian, dan memberikan ruang bagi pembinaan sebelum penghukuman. Penutup Muhammadiyah membutuhkan generasi muda yang kritis tetapi beradab, progresif tetapi reflektif, berani bersuara tetapi mampu menjaga lisan, serta teguh memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan penghormatan terhadap martabat manusia. Kekuatan kader tidak semata-mata terletak pada seberapa keras ia menyampaikan kritik, tetapi juga pada seberapa matang ia mengelola informasi, seberapa adil ia membentuk penilaian, dan seberapa kuat ia menjaga adab ketika memperjuangkan kebenaran. Sebab, kebenaran yang diperjuangkan tanpa adab berpotensi kehilangan substansi kemanusiaannya. Maka, tantangan kaderisasi hari ini bukan sekadar mencetak kader yang mampu berbicara tentang perubahan sosial, tetapi melahirkan kader yang mampu mengubah cara berpikir, cara memperoleh pengetahuan, cara berkomunikasi, dan cara memperlakukan sesama. Jangan sampai lisan yang seharusnya menjadi instrumen dakwah berubah menjadi sarana membuka aib. Jangan sampai media yang seharusnya menjadi ruang pencerdasan berubah menjadi ruang penghakiman. Dan jangan sampai keberanian menyampaikan pendapat berjalan lebih cepat daripada kemampuan melakukan tabayyun. Tabayyun sebelum menyimpulkan. Klarifikasi sebelum menilai. Musyawarah sebelum memutuskan. Pembinaan sebelum mempermalukan. Karena pada akhirnya, kematangan seorang kader tidak hanya diukur dari kemampuannya memperjuangkan kebenaran, tetapi juga dari kemampuannya menjaga adab ketika memperjuangkan kebenaran. Fastabiqul Khairat.  Penulis : Muh. Fadli, H.,S.E. Ketua Bidang Kader DPD IMM Sulawesi Barat

Literasi: Dari Membaca Ke Solusi Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
18 Sep 2026

Literasi: Dari Membaca Ke Solusi

PWMSULBAR.ID - Literasi kembali penting bukan sekadar karena orang perlu bisa membaca, tetapi karena bangsa yang membaca sedang membangun cara berpikirnya. Membaca melatih manusia menerima informasi, menghubungkan pengetahuan, mempertanyakan kebenaran, menemukan pola, lalu melahirkan gagasan. Jika membaca menjadi budaya, kecerdasan tidak lagi hanya milik individu, ia berubah menjadi kecerdasan kolektif bangsa. Al-Qur’an bahkan membuka risalahnya dengan perintah intelektual: “Iqra’ bacalah!” (QS. Al-‘Alaq: 1). Membaca bukan hanya aktivitas mata, tetapi aktivitas akal dan hati untuk memahami tanda-tanda Allah. Karena itu, masyarakat yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan sesungguhnya sedang membangun fondasi peradabannya. Belajar dari Bangsa Lain Ketika berjalan di Teheran, Iran, kita dapat menemukan pemandangan menarik: ruang-ruang publik, taman, pusat perbelanjaan, dan fasilitas pendidikan dimanfaatkan masyarakat untuk membaca dan belajar. Di Jepang, budaya membaca tumbuh bersama disiplin belajar; perpustakaan dan toko buku menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan. Di Finlandia, perpustakaan diposisikan sebagai ruang publik untuk belajar. Di Korea Selatan, pembangunan pendidikan, riset, dan teknologi berjalan beriringan dengan budaya belajar yang kuat. Tentu, kemajuan suatu negara tidak dapat dijelaskan hanya oleh budaya membaca. Ada banyak faktor lain: pendidikan, institusi, ekonomi, teknologi, kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia. Namun satu hal jelas: bangsa maju membutuhkan masyarakat yang menghargai pengetahuan. Tangga Literasi Masalah kita bukan semata berapa banyak orang yang bisa membaca, melainkan berapa banyak yang terus membaca, apa yang dibaca, seberapa dalam dibaca, lalu apa yang dihasilkan dari bacaannya. Perjalanan intelektual sebenarnya dapat dibayangkan sebagai tangga. Pertama, tidak berminat membaca. Kedua, mulai membaca apa saja. Ketiga, berubah menjadi pembaca fokus: memilih bidang tertentu dan mendalaminya. Keempat, mulai meneliti, tidak puas hanya mengetahui apa kata orang. Kelima, menulis dan menghasilkan pengetahuan. Dan puncaknya, menjadi problem solver: menggunakan pengetahuan, riset, dan pengalaman untuk menawarkan jalan keluar atas persoalan nyata. Di sinilah posisi seorang pakar. Pakar bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal. Pakar adalah orang yang mendalami bidang tertentu, menghasilkan pengetahuan, mampu membaca persoalan secara sistematis, dan memberikan alternatif solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka ukuran intelektualitas bukan panjangnya daftar gelar, tetapi seberapa besar pengetahuan mampu mengubah masalah menjadi solusi. Jebakan Scrolling dan Pentingnya Pohon Ilmu Lalu bagaimana dengan literasi digital? Teknologi seharusnya menjadi jalan tol pengetahuan, bukan sekadar jalan raya tempat kita terus menggulir layar. Media sosial memang mempercepat akses informasi, tetapi sebagian besar kontennya dirancang singkat dan mudah dikonsumsi. Kita dapat mengetahui banyak hal dalam beberapa menit, tetapi belum tentu memahami satu hal secara mendalam. Di sinilah bahayanya scrolling tanpa pendalaman. Kita merasa banyak tahu karena setiap detik menemukan informasi baru, padahal pengetahuan kita mungkin hanya berupa serpihan. Algoritma memberi kita informasi yang cepat; literasi mendalam memberi kita pemahaman. Karena itu, literasi digital harus naik kelas: dari content consumer menjadi knowledge seeker, dari scrolling menjadi searching, dari searching menjadi studying, dari studying menjadi researching, lalu dari researching menjadi creating and solving. Buku, jurnal ilmiah, laporan riset, dan repositori akademik tetap penting karena menyediakan ruang bagi pembacaan yang lebih panjang, sistematis, dan komprehensif. Digitalisasi tidak menggantikan membaca mendalam; ia seharusnya mempercepat manusia menemukan bahan untuk membaca lebih mendalam. Menariknya, perpustakaan menggunakan sistem Dewey Decimal Classification (DDC) yang mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama. Bagi seorang peneliti, ini bukan sekadar sistem menata buku. DDC mengajarkan sebuah disiplin intelektual: ketika saya sedang membaca, sebenarnya saya sedang berdiri di pohon ilmu yang mana? Misalnya seseorang meneliti kepemimpinan. Ia tidak cukup mengatakan, “Saya meneliti kepemimpinan.” Ia perlu mengetahui bahwa kepemimpinan berada dalam rumpun ilmu sosial, kemudian masuk ke organisasi, manajemen, perilaku organisasi, hingga variabel spesifik yang ditelitinya. Semakin jelas posisi keilmuannya, semakin tajam pula pertanyaan risetnya. Penutup: Dari Informasi ke Solusi Inilah implikasi terbesar literasi: membaca bukan tujuan akhir, membaca adalah pintu masuk menuju spesialisasi, riset, tulisan, keahlian, dan solusi. Maka perguruan tinggi jangan hanya menghasilkan mahasiswa yang lulus ujian, tetapi manusia yang mampu membaca persoalan. Dosen jangan hanya mengejar penyampaian materi, tetapi membangun budaya membaca, meneliti, menulis, dan memecahkan masalah. Perpustakaan jangan hanya menjadi gudang buku, tetapi menjadi jantung intelektual kampus. Dan setiap individu perlu memilih satu pertanyaan sederhana: “Bidang apa yang sungguh-sungguh ingin saya kuasai?” Setelah itu, bacalah setiap hari. Pilih bidang. Petakan pohon ilmunya. Baca buku dasar. Lanjutkan dengan jurnal mutakhir. Temukan research gap. Teliti persoalan. Tulis hasilnya. Gunakan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Sebab Allah tidak hanya meninggikan orang yang beriman, tetapi juga orang yang diberi ilmu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Akhirnya, bangsa tidak akan menjadi cerdas hanya karena memiliki banyak informasi. Bangsa menjadi cerdas ketika informasi berubah menjadi pengetahuan, pengetahuan berubah menjadi keahlian, keahlian berubah menjadi inovasi, dan inovasi menghadirkan solusi.Maka mari berhenti bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya baca?” Mulailah bertanya: “Setelah membaca, masalah apa yang mampu saya pecahkan?” Itulah literasi yang melahirkan peradaban. Penulis : Dr. H. Muh. Tahir, M.Si. - Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju, Dewan Pakar Majelis Pustaka & Informasi PWM Sulawesi Barat

Muhammadiyah: Gerakan Berkemajuan Yang Beriman Dan Berakhlak H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.
17 Sep 2026

Muhammadiyah: Gerakan Berkemajuan Yang Beriman Dan Berakhlak

Muhammadiyah sejak awal tidak lahir sekadar sebagai sebuah organisasi, melainkan sebagai gerakan dakwah yang memiliki cita-cita besar: menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan, menebarkan kemanfaatan, dan mencegah segala bentuk kerusakan. Karena itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya berbicara tentang kemajuan, tetapi harus memastikan bahwa setiap kemajuan selalu berpijak pada iman, ilmu, dan akhlak. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tantangan Muhammadiyah juga semakin kompleks. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, perkembangan ekonomi, dan dinamika kehidupan masyarakat menghadirkan peluang sekaligus risiko. Dalam situasi seperti ini, gerakan berkemajuan tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Berkemajuan harus berarti mampu menjadikan perubahan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Di sinilah iman dan akhlak menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Ilmu memberikan kemampuan untuk membaca persoalan, sementara iman memberikan arah tentang untuk apa kemampuan itu digunakan. Ilmu tanpa iman dapat kehilangan orientasi moral, sedangkan iman tanpa ilmu dapat kehilangan daya untuk menjawab persoalan kehidupan. Keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak hanya menghasilkan kecanggihan, tetapi juga menghadirkan kebijaksanaan dan kemanusiaan. Dalam konteks kepemimpinan Muhammadiyah, prinsip tersebut menjadi semakin penting. Pimpinan bukanlah penguasa yang harus dilayani, tetapi pelayan yang diberi amanah untuk melayani. Jabatan dalam persyarikatan bukanlah simbol kedudukan, melainkan ruang pengabdian. Semakin tinggi amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan umat. Kepemimpinan yang demikian tidak dibangun dengan jarak, melainkan dengan keteladanan. Seorang pimpinan tidak cukup hanya pandai memberikan arahan, tetapi harus mampu menunjukkan contoh dalam keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, keterbukaan, dan kesediaan mendengar. Sebab, organisasi yang besar tidak akan kokoh hanya karena struktur yang kuat. Ia membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan persyarikatan di atas kepentingan pribadi. Kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya bukan hanya terletak pada banyaknya amal usaha, luasnya jaringan organisasi, megahnya gedung, atau besarnya jumlah anggota. Semua itu penting sebagai instrumen perjuangan, tetapi yang menentukan ruh gerakan adalah ketakwaan, keikhlasan, ilmu, dan persatuan. Gedung dapat dibangun, institusi dapat dikembangkan, dan jumlah anggota dapat bertambah. Namun, jika keikhlasan melemah, ukhuwah retak, dan orientasi pengabdian bergeser menjadi kepentingan pribadi atau kelompok, maka kemajuan material tidak otomatis menunjukkan kemajuan gerakan. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus merawat budaya organisasi yang sehat: budaya saling menghormati, terbuka terhadap gagasan, dewasa dalam menghadapi perbedaan, dan mengutamakan musyawarah. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi yang hidup. Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan dan kritik tidak berubah menjadi permusuhan. Ukhuwah bukan berarti menghilangkan perbedaan. Ukhuwah berarti memiliki kesadaran bahwa di balik perbedaan terdapat tujuan perjuangan yang lebih besar. Kita boleh berbeda dalam cara berpikir, tetapi tidak boleh kehilangan kesamaan dalam semangat berkhidmat. Kita boleh memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi tetap berjalan menuju cita-cita yang sama: menghadirkan Islam yang mencerahkan dan memberi manfaat bagi kehidupan. Bagi PWM Sulawesi Barat, semangat tersebut dapat menjadi pijakan penting dalam menjalankan amanah persyarikatan. Sulawesi Barat memiliki realitas sosial yang beragam dan tantangan pembangunan yang membutuhkan kontribusi berbagai elemen masyarakat. Muhammadiyah dapat mengambil peran melalui pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Namun, kontribusi tersebut harus selalu dimulai dari pembenahan internal. Gerakan yang ingin mencerahkan masyarakat harus terlebih dahulu memastikan bahwa nilai-nilai pencerahan hidup dalam diri para kader dan pimpinannya. Gerakan yang berbicara tentang keadilan harus menghadirkan keadilan dalam relasi internalnya. Gerakan yang mengajarkan keikhlasan harus menunjukkan keikhlasan dalam pengabdiannya. Inilah makna penting dari Muhammadiyah sebagai gerakan berkemajuan yang beriman dan berakhlak. Berkemajuan bukan sekadar bergerak cepat, tetapi bergerak ke arah yang benar. Bukan sekadar memperbesar organisasi, tetapi memperbesar manfaat. Bukan sekadar membangun institusi, tetapi membangun manusia. Bukan sekadar mengejar pencapaian, tetapi memastikan setiap pencapaian membawa keberkahan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pimpinan bukanlah seberapa lama ia memegang jabatan, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya. Ukuran keberhasilan sebuah kepemimpinan bukan seberapa banyak orang yang tunduk kepada keputusan pimpinan, tetapi seberapa banyak orang yang tumbuh, terberdayakan, dan merasakan manfaat dari keberadaan organisasi. Maka, mari menjadikan Muhammadiyah sebagai ruang pengabdian yang bekerja dengan hati, berpikir dengan ilmu, bergerak dengan ketulusan, dan menjaga persatuan dengan ukhuwah. Sebab, gerakan yang kuat bukan gerakan yang tidak pernah menghadapi perbedaan, melainkan gerakan yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi untuk melahirkan kebaikan. PWM Sulawesi Barat harus terus melangkah sebagai bagian dari gerakan yang tidak hanya ingin menjadi besar, tetapi juga ingin menjadi bermakna. Tidak hanya ingin hadir, tetapi memberi solusi. Tidak hanya ingin berkembang, tetapi membawa kemajuan yang berakar pada iman dan akhlak. Semoga setiap amanah yang dipikul, setiap ikhtiar yang dilakukan, dan setiap langkah yang ditempuh oleh seluruh keluarga besar Muhammadiyah di Sulawesi Barat menjadi bagian dari amal kebajikan yang terus mengalir manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Wallahu a'lam bish-shawab.

PTMA Unggul DImulai dari Hati : Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
15 Sep 2026

PTMA Unggul DImulai dari Hati : Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

Mengurus, mengembangkan, dan memajukan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) tidak cukup dengan jabatan, gedung, anggaran, akreditasi, atau teknologi. Pertanyaan mendasarnya: mengapa ada PTMA yang maju dan berkembang, ada yang berjalan di tempat, bahkan ada yang mundur, kehilangan mahasiswa, hingga harus dilebur atau diambil alih PTMA lain? Jawabannya tidak semata-mata pada modal material, tetapi terutama pada manusia yang mengelolanya dan hati yang menggerakkannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka perubahan PTMA harus dimulai dari perubahan manusia: cara berpikirnya, kompetensinya, integritasnya, profesionalismenya, dan terutama niatnya. Sebagaimana pandangan Prof. Bambang yang pernah saya dengar, jika ingin unggul maka keunggulan harus dimulai dari seluruh mata rantai organisasi: tukang kebersihan, satpam, staf, dosen, program studi, dekan, direktur pascasarjana, lembaga, wakil rektor, rektor, BPH, hingga Persyarikatan, ortom dan siapa pun yang memberi kontribusi serta masukan kepada kampus. Semuanya harus berbobot. Sebab Rektor sehebat apa pun tidak mungkin mengangkat kampus sendirian. PTMA adalah sistem; jika satu mata rantai lemah, keunggulan ikut terganggu. SDM harus unggul, sarana-prasarana harus siap, sistem informasi harus hidup, pelayanan harus cepat, jejaring kemitraan harus luas, tata kelola harus transparan, dan seluruh unsur harus bergerak menuju tujuan yang sama. Karena itu, ketika ada titipan pegawai, dosen, atau unsur tertentu, pertanyaannya bukan siapa yang menitipkan, tetapi apakah orang tersebut mampu membantu memajukan kampus? Seleksi harus berbasis kompetensi, integritas, kebutuhan organisasi, dan komitmen. Jangan sampai orang yang seharusnya menjadi energi kemajuan justru berubah menjadi beban. Amanah yang diberikan harus dikerjakan sungguh-sungguh, bukan sekadar diduduki. Jabatan bukan tempat mencari kenyamanan, tetapi ruang mempertanggungjawabkan kepercayaan. Inilah yang membedakan Amal Usaha Muhammadiyah dari sekadar perguruan tinggi swasta. Ada kata amal sebelum kata usaha. Usaha membutuhkan profesionalisme, tetapi amal membutuhkan keikhlasan. Filosofi KH. Ahmad Dahlan mengajarkan semangat bahwa ketika bergabung dengan Muhammadiyah jangan hanya berpikir bagaimana hidup dari Muhammadiyah, tetapi bagaimana menghidupkan Muhammadiyah. Maka gaji adalah hak, tetapi memberikan nilai yang lebih besar melalui pekerjaan adalah kewajiban moral. Jangan sampai mengambil manfaat dari amal usaha atas nama kepentingan pribadi, karena ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, ruh keikhlasan mulai runtuh. Profesionalisme tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi transaksi; keikhlasan tanpa profesionalisme dapat berubah menjadi ketidakmampuan. PTMA membutuhkan keduanya: hati yang ikhlas dan kerja yang profesional. Allah menegaskan, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 105). Karena itu, ukuran pengabdian bukan seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi seberapa besar amanah yang ditunaikannya dan seberapa nyata manfaat pekerjaannya. Keunggulan juga tidak boleh dipahami sebagai predikat sesaat. Pernah sebuah program studi memperoleh akreditasi baik sekali, tetapi kemudian turun menjadi baik. Ini pelajaran bahwa keunggulan yang tidak dirawat akan menjadi masa lalu. Unggul harus menjadi budaya dan sistem yang berkelanjutan. Kurikulum harus terus dikaji sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; pembelajaran harus berbasis OBE; dosen harus mengajarkan ilmu terbaru yang lahir dari riset dan dapat diterapkan; penelitian harus menghasilkan pengetahuan dan inovasi; pengabdian harus memberi dampak; AIK harus menjadi karakter, bukan sekadar kegiatan; pelayanan harus cepat dan tepat; sistem informasi harus bekerja; sarana-prasarana harus berfungsi; dan jejaring harus menghasilkan manfaat. Budaya unggul justru terlihat dari hal-hal yang sering dianggap kecil. Ketika mahasiswa membutuhkan kaprodi, apakah kaprodi hadir? Ketika pelayanan akademik dibutuhkan, apakah layanan tersedia tepat waktu? Ketika keamanan diperlukan, apakah satpam berada di tempat? Ketika perpustakaan dibutuhkan, apakah terbuka? Ketika mahasiswa membutuhkan air, listrik, ruang, jaringan internet, atau mikrofon aula, apakah semuanya siap? Ketika sampah berserakan, siapa yang merasa bertanggung jawab? Kampus unggul bukan hanya yang bagus ketika dinilai asesor, tetapi yang bagus setiap hari ketika melayani mahasiswa. Akreditasi adalah hasil; budaya mutu adalah sebab. Maka mari kita bercermin: ketika pertama kali diterima bekerja di Muhammadiyah, kita menyatakan siap mengemban amanah. Banyak yang telah mengikuti Baitul Arqam. Pertanyaannya sekarang, apakah hati kita masih searah dengan amanah awal itu? Apakah kita datang untuk menghidupkan amal usaha atau sekadar mencari nafkah? Apakah kehadiran kita menambah nilai atau menambah masalah? Apakah pekerjaan kita membuat kampus semakin dipercaya masyarakat atau justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kinerja. PTMA yang unggul membutuhkan satu kesadaran kolektif: kampus ini milik perjuangan, bukan milik kepentingan pribadi. BPH, PWM, PDM, ‘Aisyiyah, ortom, pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga Muhammadiyah harus memberi kontribusi terbaik. Kritik harus menjadi energi perbaikan, bukan konflik; masukan harus berkualitas, bukan kepentingan; pengangkatan SDM harus berdasarkan merit, bukan kedekatan; dan setiap amanah harus dikembalikan kepada tujuan utamanya: memajukan Persyarikatan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memberi manfaat bagi umat. Implikasinya, PTMA perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap manusia, sistem, layanan, akademik, AIK, keuangan, sarana-prasarana, teknologi, penelitian, pengabdian, kemitraan, dan budaya organisasi. Setiap unit harus memiliki standar, target, indikator, evaluasi, penghargaan, pembinaan, dan konsekuensi. Orang baik harus diberi ruang berkembang, orang lemah dibina, orang berprestasi diapresiasi, dan amanah yang terus-menerus diabaikan harus ditindak secara organisatoris. Tidak boleh ada budaya “yang penting hadir”; yang dibutuhkan adalah budaya “hadir untuk memberi arti”.Pada akhirnya, PTMA tidak akan unggul hanya karena memiliki banyak doktor, gedung megah, mahasiswa banyak, teknologi canggih, atau akreditasi tinggi. Semua itu hanyalah instrumen. Ruhnya tetap manusia dan hatinya. Jika hati pengelola lurus, niatnya ikhlas, ilmunya kuat, kerjanya profesional, integritasnya terjaga, dan seluruh unsur bergerak dalam satu arah, PTMA akan tumbuh menjadi amal usaha yang berkemajuan. Tetapi jika hati mulai kehilangan amanah, profesionalisme ditinggalkan, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, maka sebesar apa pun gedung dan sebaik apa pun predikat akreditasi, kemunduran hanya tinggal menunggu waktu. Karena itu, mari kita kembali kepada niat awal: bekerja bukan sekadar di Muhammadiyah, tetapi bekerja untuk menghidupkan Muhammadiyah; bukan sekadar mempertahankan kampus, tetapi memajukannya; bukan sekadar mengejar unggul, tetapi menjadi unggul yang berkelanjutan. Sebab keunggulan PTMA tidak pertama-tama lahir dari gedung, sistem, atau sertifikat. Keunggulan lahir dari hati, dibuktikan dengan kerja, dirasakan dalam pelayanan, diukur melalui hasil, dan dipertahankan dengan amanah.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)

Jaringan pimpinan daerah Muhammadiyah se-Kabupaten Sulawesi Barat

Lihat Portal PDM →
Chat WhatsApp